Laman
Showing posts with label BERITA. Show all posts
Showing posts with label BERITA. Show all posts
Thursday, April 7, 2011
Biar mereka tahu keadaan rakyat rendah senyata-nyata
Jakarta - Syair-syair Rendra bisa dijadikan konsep dasar (basic concept) pengentasan kemiskinan di Indonesia.
“Rendra memang luar biasa, drama ini beliau tulis pada saat masih di bangku SMP, jauh sebelum Dompet Dhuafa lahir, tapi kandungannya masih relevan dengan keadaan saat ini. Bahkan syair-syair Rendra bisa dijadikan basic concept untuk pengentasan kemiskinan di Indonesia,” ungkap Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ismail A. Said, dalam orasi budaya sebelum pementasan drama berjudul Bunga Semerah Darah di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, belum lama ini.
Bicara tentang keadilan dan harkat martabat kaum dhuafa, Rendra si Burang Merak adalah tokoh yang berada di garis depan memperjuangkan keadilan. Terbukti ketika suara pers dibungkam.
"Rendra bicara lantang lewat syair-syairnya. Rendra juga nyata-nyata banyak mengangkat tema-tema perlawanan terhadap kemiskinan dalam syair-syairnya, perlawanan terhadap kezaliman, dan kesemena-menaan," katanya.
Berikut kutipan salah satu karyanya:
Hal-hal semacam inilah yang akan kutulis. Biar mereka tahu keadaan rakyat rendah senyata-nyata, biar mereka tahu apa sebenarnya yang berada di balik tempat-tempat dansa, apa yang ada di balik rumah-rumah mewah. Akan kutelanjangi dunia ini dari kepalsuan. Kita hidup dalam masyarakat, jadi harus bekerja sama. Dan kalau ada orang yang mau kaya sendiri, kalau ada orang yang mau mewah sendiri, biarlah ia hidup di hutan saja, sebagai orang biadab.
"Mengenang kepulangan Rendra adalah mengenang kepergian seorang pejuang kemanusiaan. Karya dan hidupnya akan menginspirasi banyak orang dan mengajari mereka bagaimana melawan ketakberdayaan dan kedhuafaan," katanya.
Teater Tanah Air pimpinan Yose Rizal Manua memainkan drama berjudul Bunga Semerah Darah yang ditulis dan dipentaskan pertama kali oleh Rendra saat si Burung Merak masih duduk di kelas dua SMP. Pentas ini diadakan dalam peringatan 100 Hari Rendra Berpulang yang diadakan atas kerja sama Teater Tanah Air, Dompet Dhuafa Republika, RRI, TVRI, Djarum On Art, Departemen Komunikasi dan Informasi dan Pusat Kesenian Jakarta--Taman Ismail Marzuki.
(aka/dd)
sumber: http://www.primaironline.com/berita/rileks/biar-mereka-tahu-keadaan-rakyat-rendah-senyata-nyata
read more "Biar mereka tahu keadaan rakyat rendah senyata-nyata"
“Rendra memang luar biasa, drama ini beliau tulis pada saat masih di bangku SMP, jauh sebelum Dompet Dhuafa lahir, tapi kandungannya masih relevan dengan keadaan saat ini. Bahkan syair-syair Rendra bisa dijadikan basic concept untuk pengentasan kemiskinan di Indonesia,” ungkap Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ismail A. Said, dalam orasi budaya sebelum pementasan drama berjudul Bunga Semerah Darah di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, belum lama ini.
Bicara tentang keadilan dan harkat martabat kaum dhuafa, Rendra si Burang Merak adalah tokoh yang berada di garis depan memperjuangkan keadilan. Terbukti ketika suara pers dibungkam.
"Rendra bicara lantang lewat syair-syairnya. Rendra juga nyata-nyata banyak mengangkat tema-tema perlawanan terhadap kemiskinan dalam syair-syairnya, perlawanan terhadap kezaliman, dan kesemena-menaan," katanya.
Berikut kutipan salah satu karyanya:
Hal-hal semacam inilah yang akan kutulis. Biar mereka tahu keadaan rakyat rendah senyata-nyata, biar mereka tahu apa sebenarnya yang berada di balik tempat-tempat dansa, apa yang ada di balik rumah-rumah mewah. Akan kutelanjangi dunia ini dari kepalsuan. Kita hidup dalam masyarakat, jadi harus bekerja sama. Dan kalau ada orang yang mau kaya sendiri, kalau ada orang yang mau mewah sendiri, biarlah ia hidup di hutan saja, sebagai orang biadab.
"Mengenang kepulangan Rendra adalah mengenang kepergian seorang pejuang kemanusiaan. Karya dan hidupnya akan menginspirasi banyak orang dan mengajari mereka bagaimana melawan ketakberdayaan dan kedhuafaan," katanya.
Teater Tanah Air pimpinan Yose Rizal Manua memainkan drama berjudul Bunga Semerah Darah yang ditulis dan dipentaskan pertama kali oleh Rendra saat si Burung Merak masih duduk di kelas dua SMP. Pentas ini diadakan dalam peringatan 100 Hari Rendra Berpulang yang diadakan atas kerja sama Teater Tanah Air, Dompet Dhuafa Republika, RRI, TVRI, Djarum On Art, Departemen Komunikasi dan Informasi dan Pusat Kesenian Jakarta--Taman Ismail Marzuki.
(aka/dd)
sumber: http://www.primaironline.com/berita/rileks/biar-mereka-tahu-keadaan-rakyat-rendah-senyata-nyata
WS Rendra Ajarkan Putu Wijaya Jangan Menyerah
JAKARTA - Meninggalnya penyair WS Rendra meninggalkan banyak kesan bagi teman-temannya. Salah satunya, Putu Wijaya. Seniman yang satu ini mengaku mendapat lima pelajaran dari Rendra.
"Ada lima hal yang saya dapat dari Rendra," akunya saat tahlilah 7 hari meninggalnya WS Rendra, Kamis (13/8/2009) malam.
Pertama, Rendra mengajarkan dirinya untuk mempertimbangkan tradisi. Kadang, katanya, tradisi ini diterima begitu saja, padahal ada yang tidak perlu.
Kedua, berani melawan. Artinya berani melakukan interpretasi, reposisi dan sebagainya. Ketiga, mengajarkan tidak pernah menyerah. Keempat, dia mengaku selalu diingatkan oleh Rendra, bahwa jika tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini, lalu apa artinya kehadiran dia. Kelima, dia mengajarkan untuk kritis.
Bagi Putu, meninggalnya orang besar ditandai dengan kehidupan baru. "Semakin dia pergi, semakin dia hidup di dalam diri kita. Waktu dia ada, ya kita selalu mengandalkan dia," katanya.
Saat ini, dia memikirkan bagaimana anak-anak muda bisa melihat secara langsung karya-karya WS Rendra.
"Banyak anak-anak muda yang belum sempat melihat karya almarhum. Bahkan belum kenal sama sekali, karena dia sudah tidak ada. Saya pikir, bagaimana kita bisa mewariskan Rendra ini sebagai suatu ilmu, jangan sampai kita tuturkan hanya dongeng-dongeng saja," pungkasnya.
(uky)
sumber: http://celebrity.okezone.com/read/2009/08/14/33/248159/ws-rendra-ajarkan-putu-wijaya-jangan-menyerah
read more "WS Rendra Ajarkan Putu Wijaya Jangan Menyerah"
"Ada lima hal yang saya dapat dari Rendra," akunya saat tahlilah 7 hari meninggalnya WS Rendra, Kamis (13/8/2009) malam.
Pertama, Rendra mengajarkan dirinya untuk mempertimbangkan tradisi. Kadang, katanya, tradisi ini diterima begitu saja, padahal ada yang tidak perlu.
Kedua, berani melawan. Artinya berani melakukan interpretasi, reposisi dan sebagainya. Ketiga, mengajarkan tidak pernah menyerah. Keempat, dia mengaku selalu diingatkan oleh Rendra, bahwa jika tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini, lalu apa artinya kehadiran dia. Kelima, dia mengajarkan untuk kritis.
Bagi Putu, meninggalnya orang besar ditandai dengan kehidupan baru. "Semakin dia pergi, semakin dia hidup di dalam diri kita. Waktu dia ada, ya kita selalu mengandalkan dia," katanya.
Saat ini, dia memikirkan bagaimana anak-anak muda bisa melihat secara langsung karya-karya WS Rendra.
"Banyak anak-anak muda yang belum sempat melihat karya almarhum. Bahkan belum kenal sama sekali, karena dia sudah tidak ada. Saya pikir, bagaimana kita bisa mewariskan Rendra ini sebagai suatu ilmu, jangan sampai kita tuturkan hanya dongeng-dongeng saja," pungkasnya.
(uky)
sumber: http://celebrity.okezone.com/read/2009/08/14/33/248159/ws-rendra-ajarkan-putu-wijaya-jangan-menyerah
Penghargaan: Karya Sastra Lampung Dapat Rancage
![]() |
| rendra.bp.blogspot.com.jpg |
Penyair WS Rendra turut membacakan puisi dalam peringatan 70 tahun Ajip Rosidi di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Bandung, Kamis (31/1). Ajip Rosidi meskipun besar di tatar Sunda, tetap memperhatikan dunia sastra Indonesia dengan memberikan hadiah sastra Rancage yang digelar secara rutin dalam 20 tahun ini. (SP/Adi Marsiela)
"Genap sudah 20 tahun hadiah sastra ini diberikan kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa-bahasa ibu," kata Sekretaris Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage, Hawe Setiawan di sela-sela acara bedah buku otobiografi Ajip Rosidi, Hidup Tanpa Ijazah dalam peringatan 70 tahun sang penulis di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Kamis (31/1).
Menurut Hawe, pengumuman para pemenang hadiah "Rancage" selalu dilakukan pada tanggal 31 Januari setiap tahun, terpisah dengan acara penyerahan hadiahnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ajip Rosidi mengatakan karena keterbatasan dana, maka untuk bahasa Lampung hadiah hanya diberikan untuk karya.
"Mudah-mudahan dalam tahun-tahun yang akan datang, untuk orang atau lembaga yang berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Lampung juga akan diberikan Hadiah Rancage.
Menurut Hawe, masyarakat Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi- adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan berirama), dan sebagainya, kebanyakan berupa sastra lisan, meskipun ada beberapa yang sudah dibukukan. Mereka juga mempunyai huruf sendiri, meskipun sekarang tidak digunakan lagi.
Yang terkemuka ialah Udo Z Karzi (nama péna Zulkarnain Zubairi) yang telah menerbitkan buku Momentum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam, 2007). Sajak-sajak Udo Z. Karzi, terangnya, mencerminkan semangat zaman. Diharapkan akan mampu merangsang para sastrawan lain untuk menulis dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung.
"Untuk pertama kali Hadiah Sastra Rancage untuk karya ditetapkan untuk diserahkan kepada pengarang kumpulan sajak ini," kata Hawe.
Kepada Udo Z Karzi akan diberikan Hadiah Sastra Rancage 2008 untuk karya berupa piagam dan uang sebesar Rp 5 juta. Dengan penghargaan ini, maka setiap tahun Yayasan Kebudayaan Rancagé harus mengeluarkan lebih dari 6 hadiah untuk empat bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa, Lampung, dan Sunda. Di samping itu, kadang-kadang memberikan Hadiah "Samsudi" buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.
Mulai tahun 2008 ini juga, Rancage menggelar penghargaan baru, berupa Hadiah Hardjapamekas, untuk guru bahasa Sunda di tingkat SD, SMP dan SMA. Upacara penyerahan Hadiah Sastra Rancagé dan Hadiah Samsudi rencananya bakal dilaksanakan melalui kerjasama Yayasan Kebudayaan Rancagé dengan Universitas Padjadjaran pada bulan Mei 2008 di kampus universitas tersebut.
Tiga Kali Rancage
Hadiah sastra Rancage untuk Sastra Sunda diberikan kepada roman karya Godi Suwarna, Sandekala. Dengan hadiah ini, Godi menjadi tiga kali memperoléh Hadiah Rancage, semuanya untuk karya, yaitu tahun 1993 untuk kumpulan sajaknya Blues Kere Lauk dan tahun 1996 untuk kumpulan cerita pendeknya Serat Sarwasatwa.
Sementara Hadiah Rancagé 2008 untuk jasa karena telah melakukan usaha memelihara dan melestarikan bahasa Sunda diberikan kepada pimpinan grup Teater Sunda Kiwari, R Dadi Danusubrata. Sementara untuk hadiah Samsudi 2008, diberikan kepada Ai Koraliati yang menulis buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Catetan Poean Rere.
Untuk kategori Sastra Jawa, kumpulan sajak berjudul Bledheg Segara Kidul karya Turiyo Ragilputra menjadi yang terpilih. Karya Turiyo, yang diterbitkan Gema Grafika, Yogyakarta itu menggambarkan sikap dan perhatian penyair kepada kebudayaan, bangsa, dan kawan-kawannya.
Menurut Ajip, gagasan yang kompleks dari penyair mampu diungkapkan dengan pilihan kata yang khas Jawa. Secara keseluruhan, karya itu dianggap dinamis, utuh, dan total.
"Untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastra Jawa, Hadiah Sastra Rancage 2008 ditetapkan untuk dihaturkan kepada Sriyono, redaktur majalah Jawa Jaya Baya sejak 1979," katanya.
Selepas menjadi wartawan Indonesian Daily News (IDN), Jawa Pos, Sriyono menulis di Jaya Baya lewat Roman Secuwil yang menjadi tempat latihan para pengarang muda pemula menulis dalam bahasa Jawa. "Sriyono akan dihaturkan Hadiah Sastra "Rancage" 2008 untuk jasa berupa piagam dan uang Rp 5 juta," kata Hawe.
Bagi karya sastra dalam bahasa Bali, dia menjelaskan, selama tahun 2007 hanya terbit 5 judul buku. Jumlah ini jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai belasan judul.
Menurut Hawe, meskipun secara kualitatif menurun, namun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karya-karya terbitan tahun 2007 menunjukkan pengungkapan dan pengucapan baru tanda kreativitas jalan terus. Antaranya nampak pada pencarian dan pencapaian estetika bunyi yang terdapat pada puisi dan estetika bentuk yang tampak pada prosa.
Untuk tahun ini, hadiah itu diberikan kepada Tiang Bajang Kayang-kayang, karya I Nyoman Manda. Sastrawan yang terpilih untuk menerima Hadiah Sastra Rancagé 2008 untuk jasa ialah I Madé Suatjana, yang menemukan program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar dan bisa diaplikasi léwat program Microsoft Word.
Program Bali Simbar mulai dirancang tahun 1986 dengan menggunakan program Chi-writer dengan melakukan modifikasi font sehingga aksara Bali bisa diketik léwat komputer.
Temuan Bali Simbar itu pertama kali disosialisasikan tahun 1989 dalam ajang pameran Pesta Kesenian Bali di Denpasar. Tahun 1993, Yayasan Sabha Sastra Bali yang bergerak dalam pembinaan bahasa dan sastra Bali modern mulai menggunakan temuan Made Suatjana untuk mengetik naskah buku pelajaran tingkat SMP.
Mulai tahun 1999 program Bali Simbar dipakai di Percetakan Bali untuk mengetik buku sastra dan buku pelajaan beraksara Bali. Tahun 2001, Made menciptakan program transliterasi huruf Latin ke aksara Bali, untuk mengembangkan program terkait.
"Kepada I Made Suatjana akan dihaturkeun Hadiah Rancage untuk jasa berupa piagam dan uang Rp 5 juta," kata Hawe. [153]
Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 1 Februari 2008
Ken Zuraida: Aku cinta padamu
![]() |
| rendra13.www.poskota.co.id |
Hari Lahir Rendra jadi Hari Kebudayaan Nusantara
Rendra tidak pernah memandang masyarakat secara basa-basi
Depok - Ken Zuraida, istri seniman WS Rendra melepas jenazah suaminya sambil mengungkapkan perasaan cintanya kepada seniman yang dikenal dengan sebutan Burung Merak.
"Saya tidak patut menjadi guru di bengkel Teater. Sebagai istri saya kurang bekti (Berbakti). Aku cinta padamu," kata Ken yang terlihat terbata ketika diminta tampil untuk berbicara pada acara pelepasan jenazah almrhum WS Rendra sebelum disholatkan di Bengkel Teater, Citayam, Jumat (7/8).
Ken mengungkapkan dirinya merupakan asisten, murid, musuh, teman, pembantu dari seniman pendiri teater Indonesia, WS Rendra.
"Saya ingin mengajak putra-putri Bengkel Teater untuk melepas almarhum dengan lagu singgah-singgah," katanya.
Beberapa anggota Bengkel Teater kemudian berdiri dan menyanyikan lagu singgah-singgah yang berlirik bahasa Jawa Halus.
Para pelayat termasuk Putu Wijaya, budayawan Mudji Sutrisno, pelawak Tarzan, pimpinan RRI Parni Hadi dan Menbudpar Jero Wacik tertunduk dan terhanyut haru mendengarkan istri almarhum dan para personil Bengkel Teater menyanyikan lagu tersebut.
Sementara itu, dari kalangan artis tampak melayat antara lain Virgiawan Listianto atau yang lebih dikenal dengan Iwan Fals, dan Deddy Mizwar, dan lainnya.
Karangan bunga duka citapun menghiasi tempat Bengkel teater tersebut, seperti dari Dirut Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Parni Hadi, Keluarga Teater Alam Yogya, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, artis Connie Constantia, Forum Harmoni Nusantara, Jenderal (Purn) TNI Wiranto, dan Surabaya Community Sedhuluran Sampek Matek.
Tokoh pendidik, Arif Rahman kemudian memimpin doa untuk melepas kepergian almarhum WS Rendra, sebelum dibawa ke masjid di sebelah Bengkel Teater untuk disholatkan.
Sumber: Rendra (Portaltiga/Primair) / (feb/ant)
In Memoriam WS Rendra
![]() |
| harispriyatna.wordpress.com |
Meski aku tak banyak kenal dan hafal puisi-puisi Rendra, tapi aku tahu dia orang hebat yang pantas aku kagumi dan teladani. Aku pertama mengenal Rendra dari buku pelajaran bahasa dan sastra untuk SMA, tapi buku itu bukan buku pelajaran yang kami pakai di sekolah. Itu buku bekas kakakku atau entah warisan dari siapa. Dari puisi Rendra yang aku baca di sana, aku merasakan ada getaran dan keindahan.
Rendra aku kenali lebih dalam melalui kelompok musik Kantata Takwa. Aku menyukai kelompok ini karena pentolannya adalah idolaku: Iwan Fals. Banyak lagu Kantata Takwa yang berasal dari puisi Rendra. Yang paling penting adalah Kesaksian. Lagu ini begitu menggetarkan dan menggugah nurani. Semacam kredo untuk para pembela kebenaran dan keadilan. Lagu itu berisi pernyataan keberpihakan kepada rakyat kecil dan penentangan kepada penguasa yang lalim.
Lagu lainnya adalah Paman Doblang dan Rajawali. Dalam lagu Paman Doblang ada bait puisi Rendra yang sangat terkenal:
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
Ketika aku kuliah di Unpad, aku pernah menyaksikan Rendra membaca puisi langsung dari dekat. Saat itu, Rendra diundang oleh Fakultas Sastra Unpad untuk membacakan puisi. Rendra membacakan puisi-puisinya di pelataran kampus Fakultas Sastra. Yang aku ingat dari puisi yang dia baca adalah kalimat, “Ada tokek … ada tokek ….” Lantas ada juga puisi yang kata-katanya “Kacoa, ka-co-a ….” Kalau tidak salah itu dari kumpulan puisi Orang-Orang Rangkasbitung.
Setelah itu, aku pergi ke Mesjid Ibnu Sina di kampus Unpad untuk melaksanakan shalat Jumat. Alangkah senangnya aku, ternyata di dalam mesjid, aku duduk persis di belakang Rendra. Aku bertambah kagum kepadanya, dengan rambutnya yang gondrong dan keliarannya pada masa lalu, ternyata kini dia betul-betul taubat. Suka beribadah kepada Allah.
Dan sebagaimana dikabarkan pada hari kematiannya, hidup Rendra memang khusnul khatimah: dia meninggal dengan bahagia dan rasa cinta kepada Allah.
Puisi terakhirnya menunjukkan semua itu:
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
Sumber: http://harispriyatna.wordpress.com/2009/10/06/in-memoriam-ws-rendra
Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal
Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.
Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian saya dikenal-sebagai "dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua.
Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim. Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang - setelah memperoleh 4 orang anak - perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.
Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.
Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an.
Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saga, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.
Pergi Haji
Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.
Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, "Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi.
sumber: http://styagreennotes.blogspot.com/2010/12/saya-murtad-selama-36-tahun.html
Subscribe to:
Posts (Atom)





